Berkhidmat Untuk Rakyat

Berkhidmat             Untuk            Rakyat
Tampilkan postingan dengan label TAUJIH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAUJIH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2013

Taujih Ust Musyaffa: "Yang Harus Kita Lakukan di Hari-Hari Ini"


Assalaamu’alaikum wr wb

Alhamdulilah kita selalu dipertemukan dalam forum-forum seperti ini untuk merujuk kepada sumber-sumber asasi kita, Al Qur’an dan Assunnah, semoga kita selalu mendapatkan petunjuk.

Hari dan jam yang akan tentukan prestasi dakwah kita semakin dekat, hitung mundurnya semakin kecil. Di DPP ada banner hitung mundur sd 9 April 2014. Itu ibarat ajal yang telah ditentukan. Tempo yang telah disepakati.

Mumpung pasar masih buka, lewat tgl 9 April pasar sudah tutup, dagangan sudah tidak laku,  maka gunakan pasar ini sebaik-baiknya. Pasar  yang dimaksud adalah ladang perjuangan kita mumpung masih terbuka. Calon  pembeli masih ada. Barang yang kita jual  masih dilirik dan masih diperhatikan  orang. Jadi, kalau mau habis-habisan, waktunya sekarang ini. Jangan nanti kalau selesai tanggal 9 April. Kalau sudah lewat, hari pasaran nunggu 5 tahun lagi. Situasi ini harus difahami bahwa sekaranglah saatnya. Kita bicara partai, orang tidak akan bicara macam-macam. Kita mengkampanyekan diri, tidak dipandang aneh karena ini lagi pasarannya.

Yang harus kita persiapkan di hari pasaran ini ada 3 hal :

I. Di hari pasar ini yang harus dipastikan adalah isi hati kita

Bahwa yang mengisi hati ini adalah ikhlas lii’lai kalimatillah, ikhlas dalam menempuh dan meniti jalan Alloh SWT. Mari kita tata hati kita untuk konteks ini. Dan pastikan, inilah yang diketahui Alloh, meskipun  Alloh Maha Tahu. Maksudnya  kita lah yang memastikan itu, bahwa tak ada yang mengisi hati ini kecuali pujian untuk Alloh, untuk I’lai kalimatillah, perjuangan fi sabilillah, perjuangan untuk litakuuna kalimatullohi hiyal ulya.

Saat antum keluar rumah, mau apa? mau silaturahim cari suara, mau berkunjung ke saudara saya, teman saya, posisikan bahwa  ini adalah bagian dari cara kita menerjemahkan  proses menuju i’lai kalimatillah. Kenapa  harus begitu? Kita akan gagah memperjuangan apa yang mesti diperjuangkan di jalan Alloh ini, kalimatulloh ini, manakala kita punya keyakinan bahwa ada sekian banyak suara aspirasi yang kita perjuangkan. Kalau di belakang kita sedikit, mereka akan mengatakan dengan bahasa seperti bahasa Fir’aun, Innahu lasyirzhimatun qoliiluun... (Itu kan suara di pojok-pojok sana. Suara-suara pinggiran yang tidak perlu diperhatikan.)

Maka dari itu mari kita tata hati bahwa yang kita lakukan adalah dalam rangka I’laai kalimatillah.

Disamping tentang menata hati sedemikian rupa, Alloh SWT kaitkan isi hati  ini dengan banyak hal.

Dalam QS Maryam 96, Allah kaitkan isi hati ini, keikhlasan ini dengan respon dan sambutan publik.

Innalladziina aamanuu wa’amilushsholihaati sayaj’aluhumurrahmaanu wudda…

Dijadikan cinta kasih di antara hamba-hamba Alloh. Manakala hati kita baik, maqbul 'indalloh, maka Alloh akan panggil Jibril, ”Wahai Jibril sesungguhnya Aku mencintai Fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril pun mencintai dia, dan Jibril membuat pengumuman di langit, bahwa Alloh mencintai fulan, maka cintailah dia. Dan penduduk langit pun mencintai dia." Kalau Alloh sudah mencintai dia, Jibril dan penduduk langit juga mencintai dia,maka orang itu di bumi ini di mana-mana diterima, direspon dan disambut.  Yudhou lahu qobuulu fil ardh.

Mungkin orang memilih kita walaupun kita banyak catatan, karena mesakke, kasihan. Tidak penting bagi kita, kita dipilih karena dicintai atau karena mesakke. Yang penting adalah dipilih. Yang bisa mengatur hati adalah Alloh. Karena itu sekali lagi, pertama kali di hari pasaran ini, yang CAD, yang AD, yang kader, yang simpatisan,  masing-masing kita menata hati, semua dalam rangka I’lai kalimatillah, fii sabilillah, litakuuna kalimatullohi hiyal ulya. Mungkin yang datang kepada mereka banyak, tapi yang penting adalah bagaimana Alloh mengatur hati orang untuk memastikan pilihannya kepada kita. Itu rahasiamya ada pada hati.

Dalam QS Al Anfal 70, Alloh mengaitkan kebersihan hati itu dengan 2 hal : pengganti yang lebih baik dan pengampunan dari Alloh SWT.

Yaa ayyuhanabiyyu qul liman fii aidiikum minal asro…….

Di hari perjuangan seperti  ini banyak yang hilang dari kita. Sama-sama hilang, maka kita tata bahwa hilangnya itu dengan kebersihan hati. Misal, pas ada keinginan untuk beli ini-itu, namun uangnya kita gunakan untuk menyumbang biaya pemilu. Mungkin waktu kita yang hilang, mungkin juga kesempatan-kesempatan kita yang hilang, karena digunakan untuk perjuangan itu.

Tapi manakala  in ya’lamillahu fii qulubikum khoiro..... jika Alloh tahu di dalam hati kita itu kebaikan yang ada, maka Alloh akan mengganti semua yang hilang itu dengan yang lebih baik. Tidak disebutkan apa gantinya itu. Asas iman itu adalah iman bil ghoib. Kalau tak iman dengan yang ghoib, hilanglah iman itu. Yang penting adalah  iman. Apa yang lebih baik itu, wallohu a’lam.

Ayat ini turun berkaitan dengan Al Abbas bin Abdul Muthallib, paman Rasululloh SAW, yang sebenarnya muslim, tetapi dapat tugas khusus untuk tetap berada di kalangan kafir quraisy di Makkah, sebagai informan. Saat perang Badar, beliau terpaksa ikut rombongan orang kafir memerangi kaum muslim. Repotnya, yang tahu tugas khusus beliau sangat sedikit. Alhamdulillah, Abbas tidak terbunuh, hanya tertawan. Sampai keluar keputusan bahwa setiap tawanan kalau mau bebas, harus bayar tebusan. Abbas datang kepada Rasul, “Bukankan saya muslim, apakah bayar tebusan juga?”  Namun Rasul menjawab dengan jawaban standar : "Engkau kan tawanan, kalau ingin bebas, bayarlah tebusan."

Abbas berkata, hartaku telah habis. (Rasul SAW tidak memberikan dana operasional untuk tugas khususnya di Makkah). Namun Rasul menyampaikan, “Bukankah sebelum perang Badar engkau menemui seorang wanita dengan rahasia di Makkah, dan menitipkan hartamu kepadanya, apabila engkau mati dalam perang, harta itu untuk diberikan kepada keturunanmu? Dan kalau masih hidup akan kau ambil lagi?” 

Bisa dibayangkan, betapa berat perasaan Abbas. Bahkan yang rahasia pun telah dibuka oleh Alloh, hingga tak punya apa-apa lagi. Habis semua. Maka sebagai hiburan, Alloh SWT menurunkan Al Anfal ayat 90 ini. Allah akan mengganti kalau dia ikhlas dengan sesuatu yang lebih baik, dan akan diampuni. Maka Abbas pun percaya, iman bil ghoib, dan tidak bertanya-tanya lagi.

Di hari tuanya, Al Abbas ini menjadi sangat kaya. Milyuner. Ia berkata kepada generasi berikutnya, “Saya yakin, ini adalah wujud janji Alloh yang pertama. Dan saya masih menunggu janji yang kedua, yaitu ampunan."

Suka atau tidak suka, banyak yang hilang dalam perjuangan ini. Tapi yang penting, hilangnya itu by design, bukan accident, dan ikhlas agar ada ganti yang lebih baik.

Dalam Al Fath 18

Alloh kaitkan masalah hati ini dengan sakinah, kemenangan, dan ghonimah.

Laqod rodhiyallohu ‘amil mu’miniina….   

Berdasarkan apa yang Alloh tahu itu, maka Alloh berikan 3 hal:

(1) Faanzalahuu sakinatan, turun ketenangan, ketentraman

Sakinah ada hubunganya dengan kata sikkin, pisau. Lihatlah ayam jago, yang ke mana-mana. Kalau sudah ketemu pisau, maka dia sakinah. Dimakan pun diam saja..

Contoh lain tentang sakinah, Waktu perang Hunain, 12 ribu pasukan muslimin melawan 4000 kafir hawazin. Saat melewati jalan yang sempit di antara dua bukit, tiba-tiba kaum muslimin dihujani panah, maka tercerai berai dan berlarian ke sana kemari. 12 ribu yang tadinya simbol keunggulan, maka di jalan sempit itu justru jadi masalah. Wa dhooqot ‘alaikumul ardhu bimaa rokhubat…   Tsumma anzalalloohu sakiinatahu ala rosuulihi wa ‘alal mukminin ( QS 9 : 25-26).... Setelah sakinah turun, seakan-akan tak ingat lagi ada hujan panah saking tenangnya. Bahkan dalam siroh diceritakan, kuda-kuda pada lari menjauh dan susah digerakkan, setelah sakinah turun maka bisa diarahkan lagi, dan mereka turun dari kuda di jalan sempit itu, jalan kaki menyambut panggilan Rasululloh SAW.

Kalau tak ada sakinah, kita gampang panik.

Lihat baliho kompetitor saja panik... padahal Alloh yang atur siapa yang akan dipilih. Datang di satu tempat, keduluan orang lain, tak usah panik. Mereka punya harapan dari kedatangannya itu, namun kita pun berharap kepada Alloh. 

Sakinah juga berkaitan dengan litaskunu ilaiha antara suami istri.

Tapi jangan terlalu sakinah, jadinya malah sukun, kebalikan dari harokat,  mati, diam.

(2) wa atsaabahu fathan qoriibaa, Alloh mengganjar mereka dengan kemenangan yang dekat.

(3) wamaghonima katsiirotan, bukan ghonimah biasa, namun ghonimah yang sangat banyak !

Lagi-lagi dikaitkan dengan kondisi hati. Karenanya yang perlu ditata pertama adalah masalah hati.

***

II. Mari mentadabburi As Sajdah 17, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi

Falaa ta’lamu nafsun maa ukhfiya lahum min qurroti a’yun

“Maka tidak seorangpun mengetahui apa yang disebunyikan untuk mereka yaitu ( bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan”

Pasti jiwa akan tahu, apa yang dirahasiakan dari mereka, segala  hal yang membuat jiwa  senang.

Dalam konteks kita, apa yang akan menyenangkan kita:

-semua kader bekerja, semua terlibat pemenangan. Itu menyenangkan. Akhirnya  dapat suara banyak, itu menyenangkan. Target kursi terpenuhi, itu menyenangkan.

Tapi semua  yang menyenangkan ini dikaitkan dengan jazaan bimaa kanuu ya’maluun. Sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan. Kita berkesempatan mendapat maa ukhfiya lahu, asalkan mau bekerja. Apalagi slogan kita: cinta kerja harmoni.

Rasul SAW bersabda,

“jika kiamat datang dan ada benih di tanganmu, dan masih ada kemampuan  untuk menanam, maka tanamlah, karena pada menanam itu ada pahala”

Andai antum tahu dan yakin jika jam 1 siang akan mati, dan jam 12 antum dapat tugas menanam kelapa, bagaimana?  Untuk apa? Sudah mau mati. Menunggu panen butuh bertahun-tahun. Tapi Rasul ajarkan, ini bahkan kiamat, yang tak ada hari lagi untuk menunggu hasil panen. Sudah sampai pada hari yang kholidiina fihaa... tapi diajarkan, tanam saja, karena dalam menanam itu ada pahala.

Maka kita pun bekerja apakah jadi suara apa tidak, entahlah, serahkan saja pada Alloh.

Rasul SAW pun memberi contoh : Rasululloh SAW punya tetangga seorang Yahudi. Dan anak si yahudi sering bermain bersama anak-anak muslim. Ternyata anak-anak pun tak luput dari perhatian Rasululloh SAW. Suatu ketika, si anak Yahudi tidak terlihat di antara anak-anak muslim. Maka Rasul SAW bertanya kepada anak-anak, dimana dia. Teman-temannya bilang, si anak Yahudi sedang sakit keras dan mungkin akan meninggal. Rasul pun menanggapi dengan serius. Rasul SAW terlihat panik dan tegang, lalu mengajak beberapa shahabat untuk menjenguk. Beliau dapati si anak sedang sakaratul maut. Maka beliau mentalqin, membaca 2 kalimat syahadat. Andai Rasul SAW politisi murni, pasti tak mau melakukan itu. Ini anak belum nyoblos. Kalaupun nyoblos, bahkan sudah mau mati.

Si anak menengok ke arah bapaknya. Mungkin bapaknya mikir juga, anaknya sedang jadi target dua kalimat syahadat, padahal sudah mau mati. Ini pasti Muhammad tidak sedang sekedar cari pengikut. Si bapak juga tidak menemukan tafsir materi. Pasti Muhammad menginginkan kebaikan untuk anaknya. Maka si bapak bilang, “Turuti saja Abul Qosim (Muhammad)”.  Si yahudi tak mau menyebut nama Muhammad, karena berarti dia mengakui kenabian Muhammad sebagaimana yang namanya  disebutkan dalam kitab suci mereka. Maka sang anak mengucap syahadat kemudian meninggal. Rasul SAW tampak  gembira dan bersabda “Segala puji bagi Alloh yang telah menyelamatkan anak ini dari neraka”.

Jadi, kerja saja lah. Komunikasi, datangi, semoga dengan kerja ini, dengan spiritJazaa’an bimaa kanuu ya’maluun, insyaalloh Alloh akan berikan janjinya, memberikan qurrota a’yun, dengan syarat, kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja.

***

III. QS Al Baqoroh ayat 249-252

Falamma fashola thooluutu bil junudi...

Dari cerita Thalut ini, salah satu ujian dalam perjuangan adalah kita dihadapkan pada kekuatan lawan. Pasukan Thalut dihadapkan pada fakta bahwa kekuatan jalut dahsyat dan luar biasa. Orangnya gedhe-gedhe. Dalam cerita Israiliyat dikatakan saking gedhenya, ketika 12 orang mata-mata Israel tertangkap, mereka disuruh berjalan di lengan orang-orang nya Jalut. Ini cerita Israeliyat tidak untuk diimani, terkadang isinya aneh-aneh. Seperti cerita asal usul kucing versi israeliyat…

Yang mentalnya lemah, daya juangnya lemah akan berkata laa thoqotalana.... Kita juga begitu. Jumlah kita sedikit, uang sedikit, stiker sedikit, kalender kecil-kecil. Kenyataan bahwa lawan lebih hebat itulah ujian. Yang bisa membuat kita tegak adalah manakala kita punya stok ma’nawi yang kuat. Alloh yang atur semuanya. Maka kalkulasi kita jangan pada hebatnya musuh. Yang penting kerja, hasil terserah Alloh.

Coba bayangkan, apa hebatnya Maryam, saat diminta untuk menggoyang pohon kurma, apalagi hingga kurma berjatuhan. Seberapa  kuatkah... wa huzzii ilaiki bijidz’innakhlati tusaaqith alaiki ruthoban janiyya.. (QS 19 : 25).  Alloh bermaksud memberikan makanan yang tepat berupa ruthob, tapi untuk itu perlu usaha, berusaha menggoyang pohon. Pohonnya goyang apa tidak, itu tidak penting. Alloh lah yang menjatuhkan kurmanya. Yang penting digoyang saja.

Dalam melihat situasi begini, 3 hal yang perlu kita pastikan, sebagaimana saat pasukan Thalut melihat pasukan jalut: Kita berdoa kepada Alloh :

Robbanaa afrigh ‘alainaa shobron

Mohon  agar Alloh SWT memberikan, bahkan menumpahkan kesabaran kepada kita. Bahkan kalau kita ingin mendapatkan al falah (kemenangan), di akhir surat ali Imron disebutkan, bukan cuma shabar, tapi perlu mushabarah. Menurut tafsir Al Maududi,mushabarah artinya punya kesabaran yang mengungguli dan melebihi kesabaran para kompetitor. Kita minta kesabaran itu agar la’allakum tuflihun (diberi kemenangan).

Malam-malam mereka sosialisasi, pasang spanduk, dll itu kesabaran mereka. Kita perlu punya kesabaran yang lebih. Bahkan dikatakan oleh Al Maududi, jika kalian tak punya kesabaran 105% jangan harap mendapat kemenangan, kalau mereka punya 100%. Dalam berbagai hal kita kalah, kalau tak ditutup dengan daya juang tinggi yang lebih dari mereka, kita tak akan menang.

Itulah yang diminta oleh pasukan Thalut. Dalam bahasa lain, afrigh 'alaina shobron : karuniai kami  konsistensi untuk terus bekerja. 

Jangan berhenti, kendor dan nglokro.

Watsabbit aqdaamanaa

Kita harus bertahan dengan eksistensi kita. Tunjukkan kita masih ada. Jangan gara-gara yang lain begitu gegap gempita mengkampanyekan partai dan diri mereka, justru kita ngilang. Tunjukkan nahnu maujud. Kita masih ada, tidak ngilang, tidak sembunyi. 

Wanshurnaa ....

Kita tetep melanjutkan upaya ekspansi kita

Manakala ini dipenuhi, dan itu yang kita mintakan kepada Alloh, maka fahazamuuhum biidznillah, bahkan waqotala dawudu jaluta... Pasukan thalut yang kecil mengalahkan tentara Jalut yang besar. Kata israiliyat, Jalut mati kena ketapel. Raksasa itu mati karena ketapel.

Mungkin tak seberapa yang kita berikan, tapi jadi suara. Di perang Badar, falam taqtuluuhum.....Tugas Rasul dan para shahabat adalah melempar. Rasul SAW begitu diserbu oleh kaum musyrikin,  Rasul SAW mengambil pasir dan dilempar ke arah mereka. Yang menjadikan pasir itu kena matanya musyrikin adalah Allah. Wamaa romaita idz romaita  walaakinnalloha romaa... Kena pasir seember di tubuh kita tidak apa-apa. Tapi kalau yang kena mata, 3 butir pun sudah menyakiti.

Jadi kita terus bekerja, datangi mereka, jelaskan ke mereka, ajak mereka. Jadi suara atau tidak, adalah Allah yang tentukan.

Intinya, teruslah bekerja. Kata hati kita, manakala Alloh tahu kita berhak  untuk menang, maka apapun yang kita lakukan, maka itu akan mentes dan diterima oleh masyarakat.


*Disampaikan Ust Musyaffa AR (Ketua Kaderisasi DPP PKS) dalam Election Update PKS DIY (Ahad, 15 Desember 2013)
-------------------------------------------------------------------
Solusi smart berinvestasi dan berbisnis bersama Ustd.Yusuf Mansur

Veritra Sentosa International | Bisnis MLM Ustad Yusuf Mansyur | MLM Terbaru |

Sabtu, 02 November 2013

Jika Kebenaran Berada Dibawah, Jangan Bersedih atau Kecewa... | Zulfi Akmal

Jangan kecewa dan sedih bila kebenaran berada pada posisi di bawah, diinjak-injak dan dinistakan. Yang penting Anda selalu berjalan di atasnya dan setia bersamanya sampai ajal datang.

Ibarat teman, bila Anda pada posisi berjaya, kaya, tenar dan sejahtera, siapapun akan mengatakan Anda adalah temannya. Orang yang tidak kenal mengenal akan mengaku sebagai famili dekat. Pejalan kaki di depan rumah Anda yang Anda sapa akan mengumumkan kepada dunia bahwa Anda adalah sepupunya.

Begitu juga kebenaran, bila dia selalu berada pada posisi menang, maka siapapun akan mengatakan bahwa dia adalah pembela kebenaran. Dialah orang yang mati-matian menjayakan kebenaran sampai ke tampuk kemegahan. Padahal yang dia lakukan hanyalah mengambil manfaat dan mencari kehidupan dari kebenaran. Berlindung dengan keteduhannya. Numpang tenar dan cari muka.

Selanjutnya, bagi sebagian orang, bahkan banyak orang yang memandang bahwa yang lagi berjaya itulah kebenaran. Kalau dia salah tidak akan mungkin berada di puncak. Inilah pandangan para 'abid dan 'abith terhadap kebenaran.

Akibat kepentingan dan cari selamat, maka pandangannya pun menjadi silau. Tidak bisa menentukan mana kebenaran dan mana kebatilan.

Kondisi seperti itu ditambah lagi sifat munafiknya kebatilan. Bagi kebatilan tidak jadi masalah melakukan apa saja, yang penting dia menang. Oleh karena itu, untuk mengelabui mata orang banyak, kebatilan tidak segan-segan memakai mantel kebenaran, tidak malu-malu memakai sorban kebaikan. Polesan apapun tak masalah, yang penting inti dalamnya.

Amat jauh berbeda dengan kebenaran. Pantangan bagi kebenaran kena noda kebatilan walau hanya setetes.

Bagi kebatilan tidak masalah dicampuri oleh kebenaran, karena pada akhirnya kebenaran pasti akan melebur jadi kebatilan. Bagaikan kotoran, bila dituangkan cendol sebanyak apapun ke dalamnya, maka cendol akan berubah menjadi kotoran. Mustahil kotoran yang berubah menjadi cendol.

Fa'tabiru ya 'ulil albab.

Oleh: Ustadz Zulfi Akmal
Al-Azhar Cairo

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Solusi smart berinvestasi bersama Ustd.Yusuf Mansur


Veritra Sentosa International | Bisnis MLM Ustad Yusuf Mansyur | MLM Terbaru |

Sabtu, 21 September 2013

KETEGARAN SEORANG NAJLA MAHMUD "ISTRI MUHAMMAD MURSI"


Bersyukurlah Para Ikhwan yang memiliki istri yang selalu menemani setiap tapak perjuangan kalian

Taujihat dari seorang istri mujahid : 

“Wahai muslimaat…. Jadilah wanita-wanita langit. Yakni wanita yang berjalan di muka bumi namun jiwanya tergantung di langit, dekat dengan Rabbnya sehingga ia menjadi sosok wanita tegar dengan apa yang sudah menjadi ketentuan untuknya. karena ini semua merupakan konsekuensi kebenaran yang ia tapaki, Ia tau kapan saatnya menguraikan air mata dan hanya kepada Siapa, meski hatinya bergemuruh menahan segala rasa namun ia tak nampak lemah dihadapan manusia, ia hanya akan merasa sangat lemah di hadapan Rabb-nya saja”. 

Hal ini ditunjukkan oleh seorang Najla Mahmud. yang selalu kuat dan tegar dalam menyongsong kejayaan Islam di Bumi Jihad mesir. Tidak sedikitpun bliau mengeluh, menyesal bahkan bersedih dengan perjuangan suaminya. malah sebaliknya dia bangga dan menjadi pendorong semangat yang terdepan bagi suami tercinta Muhammad Mursi.

Allohlah sebaik-baik tempat kita mengadu, Bukankah Alloh telah menghibur kita dengan banyak firmannya… 

” Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. “{An-Nakhl: 127} 

” Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” {A-baqoroh:214}

” Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.“{Al-Baqoroh: 155}. 

Rosululloh Shallallahu Alayhi Wa Sallam juga telah bersabda mengenai keutamaan istri-istri mujahid: 

“Kehormatan para istri mujahid bagi orang yang tidak berjihad seperti kehormatan ibu-ibu mereka, dan tidaklah seorang dari mereka yang tidak ikut berjihad bertanggung jawab menjaga keluarga seorang mujahid kemudian ia menghianatinya, melainkan dia akan diberdirikan di hari kiamat lalu mujahid itu mengambil amalnya sesuka hatinnya, maka bagaimana menurut kalian?”{HR Muslim}. 

Begitu mulianya istri seorang mujahid hingga Alloh setarakan kehormatannya dengan ibu-ibu mereka yang tidak berjihad. Maka sesungguhnya menjadi suatu keistimewaan di sisi Alloh manakala ada diantara kita menjadi istri mujahid kemudian ia mampu bersabar dengan sebaik-baik kesabaran atas apa yang sudah Alloh tetapkan. 

Begitulah tabiat seorang istri sholehah bagi Para Mujahid sejati. bersyukurlah kalian para Ikhwan yang memiliki istri yang selalu menemani setiap tapak perjuangan kalian. Jangan sia-sia kan mereka. Sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita sholehah

Kamis, 11 Juli 2013

Visi Ramadhan | Ust. Tifatul Sembiring

sumber foto: facebook
Lalu mengapa kita perlu bertakwa? Sebab manakala di akhir hayat (kehidupan) kita tidak memiliki derajat takwa, kita tidak akan bisa memasuki surga Allah subhanahu wata’ala. Karena surga Allah hanya diberikan dan disediakan bagi orang-orang yang bertakwa sebagaimana dalam firman Allah

 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” [QS. Ali Imran (3): 133]

Ayat ini tidak hanya menyuruh kita untuk bersegera dalam melakukan istighfar, akan tetapi ada makna yang lebih luas dari itu. Imam Sayuti dalam kitab Fawa’idnya, beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wa saari’uu ilaa maghfiroh adalah bermakna wa saari’uu ila sababil maghfiroh, bersegera menuju pada ampunan Allah dengan cara bersegera menuju pada sebab-sebab ampunan Allah. Sebab-sebabnya adalah:

Pertama, Bertaubat pada Allah dengan memperbanyak istighfar

Dalam satu hadits, Rasulullah bersabda, “Alangkah beruntungnya bagi orang yang memperbanyak istighfar sehingga di hari kiamat nanti dia akan mendapatinya dalam catatan-catatan shohifahnya.” Tidak ada yang pernah luput, baik itu yang kecil maupun yang besar kecuali semuanya telah tercantum dalam kitab catatan amal tersebut. Rasulullah adalah orang yang maksum (terbebas dari dosa), akan tetapi beliau beristighfar dalam sehari semalam mencapai seratus kali.

Kedua, Memperbanyak ketaatan kepada Allah

Ramadhan ini adalah sayidus syuhuur (penghulu bulan). Dengan momentum ini, kita isi dengan memperbanyak dzikir, tilawah, qiyamul lail, dan ibadah-ibadahtathowwur (sunnah) lainnya. Kalau sudah seperti ini akan lahir atau memiliki visi Ramadhan yang menghasilkan manusia yang bertakwa, dan dengan bertakwa menghasilkan jannah (surga).

Orang yang visioner itu adalah orang yang memahami apa yang hendak ia capai, dan bagaimana cara mencapainya. Kadang-kadang kita ini menginginkan surga Allah dengan ingin berkumpul dengan isteri dan anak-anak di Surga, akan tetapi anak kita dari pagi sampai malam-malam bermain video game terus. Apakah begitu karakteristik dari ahlil jannah? Tentu tidak.

Ikhwan-akhwat sekalian, jadi visi dari hidup dan kehidupan kita ini adalah ingin mencapai mardhotillah (ridho Allah). Kita tidak ingin di akhir dari kehidupan kita ini tidak memperoleh mardhotillah. Karena ia tidak dapat diganti dengan pangkat dan jabatan apapun. Kalau Allah sudah ridho pada kita, maka Allah menyediakan bagi kita surga yang mengalir di dalamnya surga-surga dan kenikmatan yang lainnya. Dalam satu ayat Allah berfirman;
    
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” [QS. Al-Baqarah (2): 207]

Ada satu kisah seorang sahabat yang bernama Hanzholah. Di saat-saat dia  menikmati indahnya malam pertama dari pernikahannya, tiba-tiba ia mendengar panggilan jihad, tanpa berpikir panjang ia pun menyambut seruan itu, padahal beliau belum sempat mandi junub. Dalam perjalanan Rasulullah melihat Hanzholah, kemudian beliaupun bertanya, “Wahai Hanzholah, gerangan apakah yang membuat engkau terburu-buru?” Lallu dijawabnya, “Wahai Rasulullah, aku mendengar seruan jihad, lalu akupun menyambut seruan itu karena aku rindu akan surga Allah.” Kemudian peperangan berkecamuk, maka beliaupun syahid.

Dalam riwayat lain disebutkan, ada seorang sahabat yang sedang makan kurma. Pada saat itu peperangan sedang berkecamuk, lalu dia bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apa balasan bagi orang yang berjihad di jalan Allah?” Rasul menjawab,“al-Jannah (Surga).” Kemudian kurma yang belum dihabiskan itu dia letakkan, lalu ia pun masuk dan bergabung dengan pasukan muslimin, kemudian ia pun meraih syahadah yang diinginkannya itu.

Mungkin begitu pula yang memotivasi terjadinya bom syahid pada setiap peperangan seperti di Palestina, Afghanistan, dan di belahan dunia lainnya. Rasulullah pernah bersabda, “Jihad itu akan terus dan terus berlangsung sampai hari kiamat.”

Abu Bakar ash-Shiddiq ketika mengomentari ayat Watazawwadu fa inna khoirozzaadi at-taqwa (dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik perbekalan adalah takwa), beliau mengatakan, “Barangsiapa yang masuk kubur tanpa ada perbekalan bagaikan seorang yang ingin mengarungi samudra tanpa kapal.”Kemudian ia melanjutkan, “Ini adalah suatu hal yang mustahil, bagaimana kita bisa mengarungi samudra tanpa kapal?”

Oleh karena itu, hendaklah kita di dalam Ramadhan ini meningkatkan diri kita dengan:

1. BERJIWA KARIIM (KEDERMAWANAN)

Kedermawanan seseorang di bulan Ramadhan, di beberapa negara Islam seperti Turki dan Mesir, pada saat menjelang berbuka puasa, para pemilik toko sudah mempersiapkan makanan untuk ifthor, ini bukan untuk pemilik toko saja, tetapi untuk umum bahkan mereka rebutan untk menawarkan kepada orang yang lewat di depan tokonya untuk menikmati apa yang disediakan oleh mereka. Gerangan apakah yang memotivasi mereka untuk melakukan semua itu? Yang memotivasi mereka adalah karena mereka paham betul akan makna hadits Rasulullah yang berbunyi,“Barangsiapa yang memberi makan untuk orang yang sedang berbuka maka niscaya dia diampuni segala dosa-dosanya oleh Allah, dan dibebaskan lehernya dari api neraka, dan diberikan kepadanya pahala sebesar pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.”

Ada salah seorang sahabat yang memprotes Rasulullah karena dia tidak mampu untuk memberikan pada orang lain untuk berbuka, lalu ia pun berkata, “Ya Rasulullah, kami tidak memiliki makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.” Lalu Rasul bersabda, “Pahala yang tiga itu akan diberikan oleh Allah, kalaulah (meskipun) orang itu memberikan sebutir kurma untuk orang lain untuk berbuka.”Jadi marilah kita tingkatkan jiwa kariim kita kepada orang yang membutuhkan.

2. TA’YIINUL IRODAH (MELURUSKAN KEINGINAN-KEINGINAN)

Bulan Ramadhan adalah momentum besar bagi kita untuk melatih diri dari keinginan-keinginan syahwat syaithoniyah kita. Makanya, Ibnul Qoyyim dalam kitabnya, beliau mengatakan bahwa pokok dari kemaksiatan itu ada tiga. Pertama, takluknya hati manusia kepada selain Alalh yang berujung pada berbuat syirik kepada-Nya. kedua, dorongan kemarahan kita yang berujung pada pembunuhan. Ketika, kekuatansyahwaniyyah yang berujung pada perbuatan zina. Dari semua ini, kita kendalikan dengan bershiyam dan dengan bershiyam akan meluruskan keinginan-keinginan kita yang bengkok seperti itu.

Ikhwan-akhwat sekalian, sesungguhnya dalam diri kita ini mengandung dua potensi, yaitu potensi untuk berbuat fujur (dosa) dan potensi untuk bertakwa, nah shiyyam Ramadhan inilah mendominankan potensi takwa di atas potensi fajir tadi, sehingga potensi-potensi fujur atau keinginan-keinginan untuk berbuat fujur tidak muncul ke permukaan.

3. TAZKIYATUN NAFSI (MEMBERSIHKAN JIWA)

Marilah kita pada bulan Ramadhan ini banyak melakukan tazkiyatun nafsi(membersihkan jiwa), dengan memperbanyak melakukan amalan-amalan sunnah untuk merontokkan bintik-bintik hitam yang ada pada hati kita. maka alangkah berbahagialah bagi orang yang selalu membersihkan hatinya, dan merugilah orang yang selalu mengotorinya.

Ikhwan-akhwat sekalian, marilah pada bulan Ramadhan kita memperbanyak dzikir, doa, tilawah, qiyamul lail, dan berdialog dengan-Nya di saat-saat manusia terlelap dalam tidurnya seraya mengemukakan segala hajat kita agar Allah menjaga diri kita, keluarga kita dan menjaga bangsa ini daripada kesesatan dan lain-lainnya.

4. MENGHIDUPKAN HATI

Mari kita hidupkan hati dengan memperbanyak bertaubat, karena Rasulullah bersabda, “Setiap anak adam itu memiliki dosa dan kesalahan dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang selalu bertaubat.”

5. BERDAKWAH

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan, bahwa pada bulan Ramadhan ini jangan sampai kita hanya mementingkan diri kita sendiri. Karena ada amal jariyyah seperti berdakwah, mengajak orang lain untuk berbuat baik. Kita manfaatkan potensi diri kita ini untuk naafi’ah lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain). Ramadhan suasananya mendukung bagi kita untuk bisa berdakwah, maka seharusnyalah kita lebih aktif lagi berdakwah, karena dakwah itu harus dimulai dan jangan sampai berhenti. Ishlah nafsaka wad’u ghoiroka (perbaiki diri dan ajak orang lain).

Dalam satu riwayat, diceritakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tatkala dihadapkan seluruh manusia di hadapan Allah, ada seorang laki-laki diseret di tengah-tengah padang masyhar yang bergelantungan di tangan kanan dan tangan kirinya istri dan anak-anaknya. Ketika sang anak dan istri dihisab dia tidak memiliki bekal di hadapan Allah Swt, kemudian ketika divonis masuk neraka mereka berkata: Ya Robb kami, ambillah hak kami darinya karena sesungguhnya dia dulu sewaktu di dunia tidak  pernah mengajarkan kepada kami tentang apa yang kami tidak ketahui, lalu isterinya berkata aku dinikahi karena cantik rupaku dan merasa senang kepadaku, demikianlah aku bergaul dengannya, tetapi aku tidak pernah diajari tentang apa-apa yang aku tidak ketahui, maka ambillah hakku kepadanya.”

Mari kita ajak masyarakat kita, dengan mujtama’ (masyarakat yang baik), dengan ciri-ciri dan dengan gaya berpakaian yang baik, dan dengan berhubungan baik antartetangga, kita perbaiki daulah (pemerintahan), insya Allah kriminalitas akan menurun, keamanan terjamin.

Ikhwan-akhwat sekalian, jadi peran da’i harus kita teruskan. Karena da’i mendapatkan satu kemuliaan di sisi Allah Swt. Kalau saya mengibaratkan, da’i itu bagaikan seorang insinyur pertanian, di mana dia selalu memperhatikan para petani, lalu kemudian dia tingkatkan intesifikasi dan ekstensifikasi, lalu dia menyelidiki bibit-bibit yang cocok sesuai dengan iklim daerah, dia berikan penuluhan untuk para petani dan masyarakat tentang bagaimana tata cara untuk bercocok tanam yang baik, agar hasilnya lebih baik. wallahu a’lam bishshowaab.

Minggu, 16 Juni 2013

KESABARAN | Anis Matta



Tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan. Maka dahulu ulama kita mengatakan: "Keberanian itu, sesungguhnya hanyalah kesabaran sesaat."

Risiko adalah pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus-menerus. Dan itulah yang dimaksud Allah swt dalam firman-Nya: "Jika ada di antara kamu dua puluh orang penyabar, niscaya mereka akan mengalahkan dua ratus orang. Dan jika ada di antara kamu seratus orang (penyabar), niscaya mereka akan mengalahkan seribu orang kafir."(QS. 8: 65).

Ada banyak pemberani yang tidak mengakhiri hidup sebagai pemberani. Karena mereka gagal menahan beban resiko. Jadi keberanian adalah aspek ekspansif dari kepahlawanan. Tapi kesabaran adalah aspek defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita mampu membawa beban idealisme kepahlawanan, dan sekuat apa kita mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup. Mereka yang memiliki sifat ini pastilah berbakat menjadi pemimpin besar. Coba simak firman Allah swt ini: "Dan Kami jadikan di antara mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka selalu yakin dengan ayat-ayat Kami." (QS. 32 : 24).

Demikianlah kemudian ayat-ayat kesabaran turun beruntun dalam Qur'an dan dijelaskan dengan detil beserta contoh aplikasinya oleh Rasulullah saw, sampai-sampai Allah menempatkan kesabaran dalam posisi yang paling terhormat ketia Ia mengatakan: "Mintalah pertolongan dengan kesabaran dan sholat. Sesungguhnya urusan ini amatlah berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (QS. 2: 45)

Rahasianya adalah karena kesabaran ibarat wanita yang melahirkan banyak sifat lainnya. Dari kesabaranlah lahir sifat santun. Dari kesabaran pula lahir kelembutan. Bukan hanya itu. Kemampuan menjaga rahasia juga lahir dari rahim kesabaran. Demikian pula berturut-turut lahir kesungguhan, kesinambungan dalam bekerja dan yang mungkin sangat penting adalah ketenangan.

Tapi kesabaran itu pahit. Semua kita tahu begitulah rasanya kesabaran itu. Dan begitulah suatu saat Rasulullah saw mengatakan kepada seorang wanita yang sedang menangisi kematian anaknya: "Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama." (Bukhari dan Muslim). Jadi, yang pahit dari kesabaran itu hanya permulaannya. Kesabaran pada benturan pertama menciptakan kekebalan pada benturan selanjutnya. "Mereka memanahku bertubi-tubi, sampai-sampai panah itu hanya menembus panah," kata penyair Arab nomor wahid sepanjang sejarah, Al-Mutanabbi.

Mereka yang memiliki naluri kepahlawan dan keberanian, harus mengambil saham terbesar dari kesabaran. Mereka harus sabar dalam segala hal: dalam ketaatan, meninggalkan maksiat atau menghadapi cobaan. Dan dengan kesabaran tertinggi, "sampai akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya," kata Imam Ibnul Qayyim. []

***

***

Entri Populer

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by DPC PKS Jetis