Berkhidmat Untuk Rakyat

Berkhidmat             Untuk            Rakyat

Minggu, 07 Juli 2013

KELUAR DARI KERUMUNAN

Bila di suatu ruang kita temui keadaan
penuh sesak, apa yang biasa kita lakukan? Pasti keluar dari ruang itu dan mencari udara segar. Namun saat keadaan
terasa panas karena terlalu banyak orang
di ruangan, mampukah kita keluar dari kerumunan
tersebut dan mencari udara segar serta sudut pandang yang lebih luas?

Kita sering menghadapi situasi libur panjang dan
bingung apa yang harus dilakukan. Kota-kota dan
tujuan wisata seperti Bandung, Puncak, Bali atau
Yogya penuh sesak dengan turis dadakan. Tempat
rekreasi di dalam kota sudah antri jauh sebelum
pintu tiket masuk terlihat. Mau menengok kampung
halaman, idem ditto, tiket kereta dan pesawat susah
dicari, kalaupun ada, mahal.

Tidak banyak dari kita yang mencoba keluar dari
situasi tersebut. itu sebabnya dari lebaran ke lebaran,
liputan mudik dan arus balik selalu jadi konsumsi menarik. Kemacetan mengular jadi tontonan di berbagai
stasiun televisi dan laporan yang seru di radio-radio.

Agak jarang yang mau berspekulasi, misalnya
takziyah ramadhan dilakukan sebelum bulan puasa
masuk. Sedikit dari kita yang mau menyiapkan liburan
jauh-jauh hari dan memilih hari kerja atau diawali di
hari terakhir tanggal merah (libur) untuk berekreasi
ke Bali, Lombok atau Yogya. Kita kebanyakan stereotipikal. Menjalani yang biasa, yang rutin, yang
nggak neko-neko.

Ketakutan untuk keluar kerumunan atau perilaku
bersama adalah permasalahan umum di setiap orang.
Begitu pula dalam politik. Seringkali partai politik
tidak berani mengambil risiko untuk berbeda, baik itu
dengan sesama kolega, atau lebih besar lagi dengan
opini publik yang dibangun lewat dan oleh media.

Ketika wacana mengadakan Dewan Pengawas bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
mengemuka, suara penentangan begitu kuat di media
massa. ruang diskusi seakan tidak terbuka bagi anggota dewan dan partai-partai. Semua harus menurut
pada media atas nama keinginan rakyat. Namun
ketika ada pelanggaran serius berupa pembocoran
surat perintah penyidikan (sprindik), orang baru tahu
bahwa KPK bukan dewa yang tidak pernah salah.

Penyelesaian lewat Komite Etik tidak benar-benar
menyelesaikan masalah. Apa memang benar pelanggaran serius seperti itu cuma satu kejadian? Apa
benar tidak ada penyalahgunaan kekuasaan (abuse
of power) lain yang dilakukan oleh pimpinan atau
aparat KPK? PKS pun mengusulkan, jika Dewan
Pengawas KPK belum dapat dibentuk atas nama
Undang-Undang, maka komite etik sebaiknya dibuat
permanen.

Saat Fraksi PKS di DPR berjuang sendirian menentang
pencantuman pasal keharusan memakai asas tunggal dalam
rancangan Undang-Undang (RUU) Organisasi Massa, banyak
pihak tidak ngeh akan bahaya bila RUU Ormas tersebut
lolos menjadi UU. Tapi saat media –atas nama suara rakyat
juga- mengangkat dan mengecam pasal-pasal tersebut, maka
terlihatlah kekuatan politik selain PKS balik badan. Akhirnya
RUU Ormas ditunda pengesahannya.

Stand out among the crowd! Begitu kata orang-orang
barat tentang sikap untuk teguh dalam kerumunan. Tapi ada
pula sikap yang perlu diambil oleh PKS saat ini, yaitu ‘keluar
dari kerumunan’ (escape from the crowd). Hal itu terkait
dengan kehidupan politik berbangsa yang mengarah kepada
zero sum game. Banyak istilah lain yang dipakai seperti tiji
tibeh, alias mati siji mati kabeh (mati satu, mati semua).

Presiden PKS Muhammad Anis Matta mensinyalir ada
pihak-pihak yang kalah tapi tak mau jatuh sendirian. Oleh
karenanya ia mencoba dengan berbagai perangkat kekuasaan
yang dimiliki, untuk menarik jatuh entitas politik lain yang
tidak ada hubungannya dengan kejatuhan kelompoknya.
Politik dalam kehidupan berbangsa, lewat kacamata media,
akhirnya dinilai sebagai permainan yang membahayakan
dan menakutkan. ini juga bisa menjadi penjelasan mengapa
tingkat partisipasi rakyat dalam berbagai peristiwa politik
makin turun.

PKS tidak ingin terjebak dalam permainan saling jegal,
saling adu kekuatan fisik dan saling menjatuhkan.oleh karenanya,
PKS memilih untuk bertemu rakyat, menyalami mereka dan
menebarkan cinta. Salam cinta PKS disampaikan langsung
oleh Presiden PKS Anis Matta beserta jajaran pengurus pusat,
wilayah dan daerah, yang menyebar di seluruh penjuru tanah
air, kepada masyarakat indonesia.

Sejak musibah yang ditimpakan kepada PKS dengan
ditahannya lutfhie hasan iskhaq,yang saat itu masih duduk
di jabatan Presiden PKS, PKS telah menyambangi rakyat
di berbagai wilayah indonesia. Dimulai dari Jawa Barat,
rombongan PKS dipimpin langsung oleh Presiden PKS Anis
Matta kemudian bergerak ke Sumatera Utara, Yogyakarta,
Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali, Maluku Utara, Sulawesi
Utara, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah dan baru
saja menyelesaikan kunjungan cinta ke Kalimantan Timur.

Dalam kesempatan bertatap muka dengan masyarakat
dan juga kader PKS, Ustadz Anis Matta selalu menyampaikan bahwa PKS lahir di indonesia bukan untuk menambah
kegaduhan, tetapi menghadirkan cinta. PKS terus bekerja
atas nama cinta kepada Allah dan kepada sesama manusia,
agar rakyat indonesia kelak dapat hidup dalam harmoni.
Kebhinekaan yang tidak semu, yakni saat cinta merasuki
jiwa-jiwa manusia indonesia dan bekerja untuk satu tujuan,
keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat.

Dan untuk urusan gaduh-gaduh, saling jegal dan saling
menjatuhkan, PKS akan dengan jelas menyatakan, “Kami
akan keluar dari kerumunan itu!”

Sumber :Suara Keadilan ,Edisi 13.April Th 2013

0 comments:

Posting Komentar

***

***

Entri Populer

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by DPC PKS Jetis